(Tanggapan untuk Kemungkinan atas Pengetahuan)
Saya ragu jika Barat itu Bodoh, untuk tidak mengakui keberadaan pengetahuan. (Semoga saya benar). Itu karena telah banyak bukti kemajuan pengetahuan & teknologi di dunia Barat. Masalahnya adalah seperti yang Anda rumuskan. Ini masalah epistemology. Kebingungan ini, menemukan momentumnya dengan cogito ergo sum. Barat mengadopsi “keraguan” sebagai metode berpikir. Sehingga bukan saja tidak mengakui opini/ pendapat umum, akan tetapi menyangsikan informasi awal (ma`lumat tsabiqoh). Disamping itu, akal yang digunakan mereka memang seperti yang Anda sebut, hanya ratio dan indera. Pengingkaran terhadap intuisi, wahyu, dan khabar shodiq lainnya telah membuat Barat sampai pada puncak peradaban materialism. Padahal akal (al-aql yang juga berkonotasi dengan al-qolb) lebih luas dari sekedar itu. Pengetahuan (ma`rifah) juga tidak hanya berurusan dengan ratio dan panca indera. Kekacauan ini, tidak hanya berlanjut pada penafian terhadap metafisik, tetapi penolak terhadap ontology positiv yang sebelumnya telah mereka rumuskan dan agung-agungkan.

Maka tidak aneh jika kita, pada hari ini mendengar kecaman terhadap ontologisasi non-western, dekonstruksi episteme, dlsb. Tidak aneh pula, jika postmo dan teori kritis menjadi tren. Ini merupakan keniscayaan yang dibangun dari pandangan dikotomis terhadap sesuatu. Atau secara sederhana dapat kita sebut; “terlalu logis!”. Pengharaman mereka terhadap hal yang tidak rasional dan kebencian mereka terhadap tradisi membuat mereka harus berputar 180 derajat, untuk mengeliminir ke-ekstrim-an. Fanatisme buta terhadap sains dan mendewakan teknologi sebagai “kebahagiaan”, telah memaksa mereka untuk memunculkan filsafat sebagai penawar dan solusi atas kesalahpahaman pandangan-hidup mereka terhadap hakikat kehidupan.

Adapun informasi sebagai saksi bisu atas keberadaan pengetahuan adalah benar. Informasi yang secara sederhana dapat dipahami sebagai “komunikasi pengetahuan” menolak paradigma “keraguan metodis”. Relativitas makna—jika bisa disebut demikian—yang diperdebatkan, tidaklah menyangsikan keberadaan informasi. Namun, akan lebih baik lagi jika kita mengkaji kembali framework Islam ihwal ilmu, kebenaran dan kebahagiaan.

Selamat Menuntut Ilmu. Mari Belajar!

[0703130233; next_revolt@yahoo.com]

Axact

Empiris

Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial mengorientasikan diri untuk menjadi katalisator terwujudnya Mulkiyah Allah di muka bumi, dan bersama-sama menggalang kekuatan kolektif dari potensi-potensi yang telah sejak lama berada dipangkuan Ummat Islam... Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayatil Mustadz'afin... Hidup Kita Bersama Allah, dan Allah Berada Dalam Kehidupan Kaum Tertindas... Inna fatahna laka fathan mubina...

Post A Comment:

0 comments:

Bro, ekspresikan ruhul jihad mu !!!