Dauroh Marhaliyah
Setiap perkataan mengandung maksud tertentu. Hatta orang gila sekalipun, berkata-kata untuk mengekspresikan kegilaannya itu. Bagaimana seorang Muharik memandang perkataan, dalam kaitannya dengan misi Robbani-nya? Di dalam Al-Quran terdapat pedoman tentang perkataan dan tata cara berkata yang baik dan bermanfaat. Fokus utama dari semua yang perkataan yang di atur dalam Al-Qur`an adalah tentang Tarbiyah Robbaniyah (baca: pengajaran).
Dalam dunia pergerakan, kita tentu sudah akrab dengan istilah “kaderisasi”. Kebutuhan akan hal tersebut sudah dipercaya sebagai hajat terbesar dalam upaya mewujudkan cita-cita yang agung. Akan tetapi, ada beberapa perdebatan yang sampai kepada kita berkaitan dengan pola dan metode penyadaran (sebagai bagian utama dari proses pengkaderan). Beberapa istilah mengalami peyorasi dan pembusukan makna. Hingga membuat sebagian Muharik merasa perlu untuk memperdebatkannya. Bagaimana dengan pandangan Al-Qur`an?
“Dan katakan kepada mereka pekataan yang membekas pada jiwa mereka..”. Pembentukan Iman dengan berbagai cara dan sarana sangat diperlukan. Goncangan jiwa dan pemikiran kiranya penting sebagai awalan perasaan dan keberpihakan seseorang terhadap risalah tawhid ini. Inilah tahap pertama dari pengkaderan; yakni penyadaran.
Apa yang biasa dikenal dengan brainwashing terkadang perlu dan berguna untuk diterapkan. Kita tidak perlu terlalu dikotomis memandang konsep-konsep dan istilahnya. Sebab Islam mempunyai mekanisme taslim atau yang biasa dikenal dengan “Islamisasi Konsep”. Diluar dari perdebatan ini, kami melihat adanya urgensi dan indikasi positif dari 'pengajaran robbani' Al-Qur`an berkaitan dengan hal ini. Demikian dengan doktrin-doktrin Islam, tanpa harus terjebak dengan logika bahasa, yakni bahwa sesuatu yang qoth`i dan sudah menjadi ma`lum minad-Dien bi d-Darurah tetaplah penting.
Sebagaimana wasiat iLaHi yang lain; Bi-Lisani Kaumihi. Dengan bahasa kaum mu! Ya, sampaikanlah kebenaran dengan bahasa yang tepat. Tidak akan kita katakan kita ingin menegakkan “Negara Islam” kepada seorang anarchist, atau kaum Libertarian. Sebagaimana kita tidak akan mengatakan kepada mereka yang Radikal dan Fundamentalis, bahwa “Islam itu moderat”. Yang terpenting bagi kita adalah terma-terma syar`i yang sudah masyhur, dalam khazanah dan pengkajian Islam yang manhaji.
Berkaitan dengan “bahasa kaum” dan “tingkatan akal”, proses penyadaran pun menjadi beragam. Seberapa perlu kita mengajak diskusi seorang petani tentang optimalisasi zakat? Seberapa perlu kita menyampaikan dogma-dogma ma`lum bi-d Darurah kepada seorang peneliti? Tidak! Indoktrinasi, diskusi atau literacy akan kita berikan kepada orang yang tepat.
Demikian Islam memberikan taklif kepada kita dengan jalan yang mudah. Regenerasi atau apalah namanya. Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk menyeru kebenaran melainkan juga mewariskannya. Dan sesuatu itu akan dimulai dari yang terdekat dan termudah.
Kajian Intensif
Al-Imanu Yazidu wa Yankusu. Iman itu naik dan turun. Naik dengan ketaatan, turun dengan maksiat. Bahkan menurut pendapat yang lain; masuk dan keluar. Masuk dengan taqwa, keluar dengan nifaq. Bahkan di zaman fitnah seperti sekarang, paginya bisa saja seseorang beriman, sore harinya ia kufur. Demikian realita qadhoya al-ummah sekarang ini.
Pembinaan dan mentoring yang intensif adalah solusi praktis-ideologis sekaligus pragmatis (tergantung situasi dan kondisi) bagi keberlangsungan estafeta da`wah islamiyah. Yang jelas, apapun alasan dan motivasinya, 'penjagaan' semacam ini harus tetap ada dan perlu senantiasa diperhatikan.
Ini merupakan tahap selanjutnya dari proses pengkaderan. Dan sesuatu yang belum selesai pasti akan berlanjut.
Tantangan dan Jebakan
Berjejal fikiran, ide dan pendapat sampai kepada jiwa-jiwa muslim yang tunduk dan patuh kepada wahyu. Berjejal-jejal manusia menggoda mu`min untuk menelan propaganda-propaganda musuh-musuh al Haq, yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Pasukan iblis berbondong-bondong menyeru ahlul qiblah (Ahli Qiblat = umat Muhammad yang terpecah ke dalam 73 golongan) dan memerangi sunnah nabawiyah.
Hingga sebagian dari saudara kita, para Muharik, lengah dan terpedaya. Kemudian mereka mulai bertanya: “Ada kah Tuhan?”. Jika kita katakan padanya “Demi Alloh ia ada!”. Mereka akan berkata, seperti perkataan orang-orang Jahil pada masa 'pra-modern' dahulu. “Dimana?”, “Sedang apa?”. Tamparlah pipinya! Tamparlah kedua-duanya, agar tak ada lagi pada dirinya syak akan penyimpangan esoteris1 akibat ide transendent unity of religions (kesatuan transenden agama-agama). Islam Rahmatan Lil Alamin. Ya, ia yang merahmati pipi kanan mu dengan 'tamparan kasih sayang' juga akan menampar pipi kiri mu.
Rahmatan Lil Alamin berarti invasif-progresif. Demikian seperti yang terwujud dalam pilar-pilarnya: dakwah dan jihad; Senjatanya tablig, amunisinya `ilmu dan aqidah, zirahnya adalah tarbiyah, strateginya adalah silaturrahmi. Sungguh indah! Ya! Karena dengan demikian kekalahannya adalah syahid. Dan kuburnya adalah jannah.
Bagaimana mungkin kita diam dan berpangku tangan. Bagaimana mungkin kita membiarkan sahabat-sabahat kita, anak-anak, saudara dan keluarga kita memilih kekufuran dan kesesatan?! Tidak, sekali lagi tidak!!! Kita tidak akan tertipu dengan muslihat esoteris “kebebasan” sebagaimana saudara kita yang lain telah tertipu dengan “Toleransi”, kebenaran yang relatif2 dan “Agama Damai”. Kita akan bergerak kawan! Kita akan senantiasa siap dan berjaga. Sebab berjaga-jaga itu lebih mulia dari sibuk membuat senjata. Ya, kita adalah Murobith karena kita seharusnya adalah Mujahid. Ya, karena jihad adalah hijrah, i`dad, ribath dan qital.
I`dad dan Hijrah yang oleh Abdullah Azzam disebut sebagai dua kewajiban yang tanpa syarat adalah harga mati dan mutlak untuk dilakukan oleh setiap muharik. Bagaimana kita memulainya? Ya! Dengan pembinaan dan pengkaderan. Karena hanya dengannya hijrah dan i`dad secara maknawi dapat dilakukan dengan optimal dan berkesinambungan.
Kita lihat, betapa mereka “tidak henti-hentinya” memerangi Dien kita. Lantas kenapa kita boleh berhenti? Sedangkan Alloh tak henti-hentinya menyeru kita pagi, siang dan malam; “Perangilah mereka, hingga tak ada lagi fitnah”. Untuk apa? Untuk rasa kesal kita dan dendam kesumat akan suatu hal? Untuk perlakuan mereka yang tidak baik terhadap kita? Tidak kawan! Tapi agar “Dien ini hanya untuk Alloh; Sang Kholiq”.
Akhirnya, hanya ada dua pilihan. Mau bagaimana lagi...
Bina lah atau Binasa lah!
Catatan:
1). Hanya diketahui dan difahami orang tertentu saja.
2). Banyak muslim yang termakan propaganda relativisme agama-agama. Dikatakan bahwa tak boleh ada manusia yang mengklaim kebenaran. Karena sesungguhnya kebenaran yang dicapai manusia selalu terbatas sebab fitrahnya manusia terbatas. Terbatas dalam segi kemampuan inderawinya, terbatas dalam segi kemampuan memahami semua faktor yang berpengaruh pada satu entitas (wujud) dsbg. Sehingga pada gilirannya, Islam pun dikatakan sebagai pencapaian manusia yang terbatas itu. Sehingga semua agama, yang hidup maupun yang mati, merupakan different theopanies of the same Truth (bentuk-bentuk penjelmaan yang beragam dari “Kebenaran” yang tunggal).
Konsekwensinya, seorang muslim tak boleh mengklaim kebenaran, Karena bila seperti itu, muslim dikatakan telah merebut hak Tuhan.
Suatu pemikiran yang sekilas nampak benar. Sekilas nampak sebagai suatu saran agar muslim rendah hati dalam berhadapan dengan kaum pemeluk agama non-Islam. Tapi sesungguhnya, bagi kaum beriman, Islam adalah Haq, karena ia datang dari Alloh yang menciptakan langit dan bumi. Al Qur'an adalah Haq dan tak terbantahkan serta harus diikuti dengan sami’na wa atho’na.
Seandainya saja Al Qur'an datangnya bukan dari Alloh, tentu ia akan mudah ditiru oleh manusia. Bukti yang nyata menunjukan kepada kita, sampai sekarang, 14 abad setelah tantangan Alloh diumumkan, tak ada satupun Jin atau manusia yang bisa membuat satu ayat pun yang serupa dengan Al Qur'an.
Oleh:
M. Ridho Hidayat
Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya-UI
Setiap perkataan mengandung maksud tertentu. Hatta orang gila sekalipun, berkata-kata untuk mengekspresikan kegilaannya itu. Bagaimana seorang Muharik memandang perkataan, dalam kaitannya dengan misi Robbani-nya? Di dalam Al-Quran terdapat pedoman tentang perkataan dan tata cara berkata yang baik dan bermanfaat. Fokus utama dari semua yang perkataan yang di atur dalam Al-Qur`an adalah tentang Tarbiyah Robbaniyah (baca: pengajaran).
Dalam dunia pergerakan, kita tentu sudah akrab dengan istilah “kaderisasi”. Kebutuhan akan hal tersebut sudah dipercaya sebagai hajat terbesar dalam upaya mewujudkan cita-cita yang agung. Akan tetapi, ada beberapa perdebatan yang sampai kepada kita berkaitan dengan pola dan metode penyadaran (sebagai bagian utama dari proses pengkaderan). Beberapa istilah mengalami peyorasi dan pembusukan makna. Hingga membuat sebagian Muharik merasa perlu untuk memperdebatkannya. Bagaimana dengan pandangan Al-Qur`an?
“Dan katakan kepada mereka pekataan yang membekas pada jiwa mereka..”. Pembentukan Iman dengan berbagai cara dan sarana sangat diperlukan. Goncangan jiwa dan pemikiran kiranya penting sebagai awalan perasaan dan keberpihakan seseorang terhadap risalah tawhid ini. Inilah tahap pertama dari pengkaderan; yakni penyadaran.
Apa yang biasa dikenal dengan brainwashing terkadang perlu dan berguna untuk diterapkan. Kita tidak perlu terlalu dikotomis memandang konsep-konsep dan istilahnya. Sebab Islam mempunyai mekanisme taslim atau yang biasa dikenal dengan “Islamisasi Konsep”. Diluar dari perdebatan ini, kami melihat adanya urgensi dan indikasi positif dari 'pengajaran robbani' Al-Qur`an berkaitan dengan hal ini. Demikian dengan doktrin-doktrin Islam, tanpa harus terjebak dengan logika bahasa, yakni bahwa sesuatu yang qoth`i dan sudah menjadi ma`lum minad-Dien bi d-Darurah tetaplah penting.
Sebagaimana wasiat iLaHi yang lain; Bi-Lisani Kaumihi. Dengan bahasa kaum mu! Ya, sampaikanlah kebenaran dengan bahasa yang tepat. Tidak akan kita katakan kita ingin menegakkan “Negara Islam” kepada seorang anarchist, atau kaum Libertarian. Sebagaimana kita tidak akan mengatakan kepada mereka yang Radikal dan Fundamentalis, bahwa “Islam itu moderat”. Yang terpenting bagi kita adalah terma-terma syar`i yang sudah masyhur, dalam khazanah dan pengkajian Islam yang manhaji.
Berkaitan dengan “bahasa kaum” dan “tingkatan akal”, proses penyadaran pun menjadi beragam. Seberapa perlu kita mengajak diskusi seorang petani tentang optimalisasi zakat? Seberapa perlu kita menyampaikan dogma-dogma ma`lum bi-d Darurah kepada seorang peneliti? Tidak! Indoktrinasi, diskusi atau literacy akan kita berikan kepada orang yang tepat.
Demikian Islam memberikan taklif kepada kita dengan jalan yang mudah. Regenerasi atau apalah namanya. Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk menyeru kebenaran melainkan juga mewariskannya. Dan sesuatu itu akan dimulai dari yang terdekat dan termudah.
Kajian Intensif
Al-Imanu Yazidu wa Yankusu. Iman itu naik dan turun. Naik dengan ketaatan, turun dengan maksiat. Bahkan menurut pendapat yang lain; masuk dan keluar. Masuk dengan taqwa, keluar dengan nifaq. Bahkan di zaman fitnah seperti sekarang, paginya bisa saja seseorang beriman, sore harinya ia kufur. Demikian realita qadhoya al-ummah sekarang ini.
Pembinaan dan mentoring yang intensif adalah solusi praktis-ideologis sekaligus pragmatis (tergantung situasi dan kondisi) bagi keberlangsungan estafeta da`wah islamiyah. Yang jelas, apapun alasan dan motivasinya, 'penjagaan' semacam ini harus tetap ada dan perlu senantiasa diperhatikan.
Ini merupakan tahap selanjutnya dari proses pengkaderan. Dan sesuatu yang belum selesai pasti akan berlanjut.
Tantangan dan Jebakan
Berjejal fikiran, ide dan pendapat sampai kepada jiwa-jiwa muslim yang tunduk dan patuh kepada wahyu. Berjejal-jejal manusia menggoda mu`min untuk menelan propaganda-propaganda musuh-musuh al Haq, yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Pasukan iblis berbondong-bondong menyeru ahlul qiblah (Ahli Qiblat = umat Muhammad yang terpecah ke dalam 73 golongan) dan memerangi sunnah nabawiyah.
Hingga sebagian dari saudara kita, para Muharik, lengah dan terpedaya. Kemudian mereka mulai bertanya: “Ada kah Tuhan?”. Jika kita katakan padanya “Demi Alloh ia ada!”. Mereka akan berkata, seperti perkataan orang-orang Jahil pada masa 'pra-modern' dahulu. “Dimana?”, “Sedang apa?”. Tamparlah pipinya! Tamparlah kedua-duanya, agar tak ada lagi pada dirinya syak akan penyimpangan esoteris1 akibat ide transendent unity of religions (kesatuan transenden agama-agama). Islam Rahmatan Lil Alamin. Ya, ia yang merahmati pipi kanan mu dengan 'tamparan kasih sayang' juga akan menampar pipi kiri mu.
Rahmatan Lil Alamin berarti invasif-progresif. Demikian seperti yang terwujud dalam pilar-pilarnya: dakwah dan jihad; Senjatanya tablig, amunisinya `ilmu dan aqidah, zirahnya adalah tarbiyah, strateginya adalah silaturrahmi. Sungguh indah! Ya! Karena dengan demikian kekalahannya adalah syahid. Dan kuburnya adalah jannah.
Bagaimana mungkin kita diam dan berpangku tangan. Bagaimana mungkin kita membiarkan sahabat-sabahat kita, anak-anak, saudara dan keluarga kita memilih kekufuran dan kesesatan?! Tidak, sekali lagi tidak!!! Kita tidak akan tertipu dengan muslihat esoteris “kebebasan” sebagaimana saudara kita yang lain telah tertipu dengan “Toleransi”, kebenaran yang relatif2 dan “Agama Damai”. Kita akan bergerak kawan! Kita akan senantiasa siap dan berjaga. Sebab berjaga-jaga itu lebih mulia dari sibuk membuat senjata. Ya, kita adalah Murobith karena kita seharusnya adalah Mujahid. Ya, karena jihad adalah hijrah, i`dad, ribath dan qital.
I`dad dan Hijrah yang oleh Abdullah Azzam disebut sebagai dua kewajiban yang tanpa syarat adalah harga mati dan mutlak untuk dilakukan oleh setiap muharik. Bagaimana kita memulainya? Ya! Dengan pembinaan dan pengkaderan. Karena hanya dengannya hijrah dan i`dad secara maknawi dapat dilakukan dengan optimal dan berkesinambungan.
Kita lihat, betapa mereka “tidak henti-hentinya” memerangi Dien kita. Lantas kenapa kita boleh berhenti? Sedangkan Alloh tak henti-hentinya menyeru kita pagi, siang dan malam; “Perangilah mereka, hingga tak ada lagi fitnah”. Untuk apa? Untuk rasa kesal kita dan dendam kesumat akan suatu hal? Untuk perlakuan mereka yang tidak baik terhadap kita? Tidak kawan! Tapi agar “Dien ini hanya untuk Alloh; Sang Kholiq”.
Akhirnya, hanya ada dua pilihan. Mau bagaimana lagi...
Bina lah atau Binasa lah!
Catatan:
1). Hanya diketahui dan difahami orang tertentu saja.
2). Banyak muslim yang termakan propaganda relativisme agama-agama. Dikatakan bahwa tak boleh ada manusia yang mengklaim kebenaran. Karena sesungguhnya kebenaran yang dicapai manusia selalu terbatas sebab fitrahnya manusia terbatas. Terbatas dalam segi kemampuan inderawinya, terbatas dalam segi kemampuan memahami semua faktor yang berpengaruh pada satu entitas (wujud) dsbg. Sehingga pada gilirannya, Islam pun dikatakan sebagai pencapaian manusia yang terbatas itu. Sehingga semua agama, yang hidup maupun yang mati, merupakan different theopanies of the same Truth (bentuk-bentuk penjelmaan yang beragam dari “Kebenaran” yang tunggal).
Konsekwensinya, seorang muslim tak boleh mengklaim kebenaran, Karena bila seperti itu, muslim dikatakan telah merebut hak Tuhan.
Suatu pemikiran yang sekilas nampak benar. Sekilas nampak sebagai suatu saran agar muslim rendah hati dalam berhadapan dengan kaum pemeluk agama non-Islam. Tapi sesungguhnya, bagi kaum beriman, Islam adalah Haq, karena ia datang dari Alloh yang menciptakan langit dan bumi. Al Qur'an adalah Haq dan tak terbantahkan serta harus diikuti dengan sami’na wa atho’na.
Seandainya saja Al Qur'an datangnya bukan dari Alloh, tentu ia akan mudah ditiru oleh manusia. Bukti yang nyata menunjukan kepada kita, sampai sekarang, 14 abad setelah tantangan Alloh diumumkan, tak ada satupun Jin atau manusia yang bisa membuat satu ayat pun yang serupa dengan Al Qur'an.
Oleh:
M. Ridho Hidayat
Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya-UI

Post A Comment:
0 comments:
Bro, ekspresikan ruhul jihad mu !!!