Memperbaiki Rancang Bangun
Perjuangan UIBI
Waktu penulis baru saja selesai mengetik judul di atas di layar monitor, seorang kawan seperjuangan bertanya pada penulis, “Memangnya perjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) punya rancang bangun?”.
Pada awalnya, penulis merasa bingung dengan arah pertanyaan tersebut. Kemudian setelah kawan penulis itu menjelaskan maksud dari pertanyaannya, barulah penulis mafhum. Menurut dia, UIBI sebagai satu kesatuan subjek, sampai saat ini tidak punya rancang bangun perjuangan. Bagi dia saat ini yang ada adalah rancang bangun-rancang bangun perjuangan sebagian-sebagian UIBI. Ada rancang bangun perjuangan ormas UIBI, ada rancang bangun orpol UIBI, yang jumlah ormas dan orpolnya saja lebih dari satu. Jadi bagi dia, kata kerja yang tepat sebenarnya mendesain, bukan memperbaiki. Sesuatu diperbaiki itu dikarenakan sesuatu itu ada dan rusak, bila sesuatu itu sebelumnya tidak ada maka bukan kata memperbaiki yang tepat untuk digunakan.
Anyway, niat penulis untuk menulis seulas renungan untuk UIBI berkaitan dengan fenomena FPI. Insiden Monas begitu menghentak hingga bisa menyatukan opini UIBI yang biasanya terpolar dalam beberapa kutub. Dalam isu insiden Monas kali ini, setidaknya UIBI kini hanya terbagi dalam dua kutub: kutub yang menghendaki pembubaran FPI dan kutub yang tidak menginginkan FPI dibubarkan. Sepertinya upaya pihak-pihak yang selama ini mengecam keberadaan FPI berakhir blunder.
Langkah Gus Dur dan kawan-kawan JIL beserta orang-orang yang pemikirannya sejenis rupanya menjadi bumerang. Karena kini mereka terpacak menjadi common enemy publik UIBI. Ini bisa dilihat dari dukungan yang terus mengalir dari kalangan UIBI baik dari kalangan Parpol maupun Ormas terhadap eksistensi FPI. Proses senjata makan tuan ini, entah masuk dalam hitungan para penasihat Conflict Management dari Gedung Putih mereka atau tidak.
Terlepas dari semua itu, saat ini UIBI mesti secara serius mengamati bagaimana efektifnya Media Massa dalam mempengaruhi opini publik. Di sisi lain UIBI sampai saat ini belum memiliki corong dalam menyuarakan aspirasinya. Pada kasus FPI yang hingga sekarang masih berlangsung perang opininya, kita bisa melihat betapa terpojokkannya UIBI di hadapan keperkasaan Media Massa.
Bila kita tengok perjalanan sejarah UIBI, mulai dari Syarikat Dagang Islam (1905) sampai Front Pembela Islam, UIBI belum sempat memiliki Media Massa yang cukup kuat untuk menghadapi mainstream isu suratkabar seperti Kompas. Padahal dari dulu, perjuangan UIBI beberapa kali mesti mundur beberapa langkah karena UIBI tidak bisa cukup kuat mempengaruhi opini publik. Apalagi pada masa-masa tribulasi kebangkitan Komunis di Indonesia. Betapa sering UIBI terpojok oleh pemberitaan-pemberitaan Media Massa Komunis. Salah satu korbannya yang masih terus selalu akan dikenang adalah Partai Masyumi. Partai kebanggan Ummat Islam ini harus tunduk di bawah pengadilan pers yang digelar surat-surat kabar komunis. Sehingga akhirnya Masyumi yang tidak bisa mendapatkan dukungan opini publik di hadapan Soekarno, akhirnya mesti rela dibubarkan. Intermezzo sedikit: Apakah FPI akan mengalami hal yang sama? Tidak bisa menggalang opini publik di hadapan SBY-JK, lalu harus rela dibubarkan?!
Maka daripada itu, kalangan intelektual UIBI mesti dengan segera membuat rancang bangun perjuangan UIBI yang bisa menangani hal-hal macam di atas. Apakah perjalanan panjang UIBI yang selalu kalah dalam pertarungan memperebutkan opini publik masih belum cukup untuk menggugah kesadaran kita? Lebih dari itu, memang sampai saat ini perjuangan UIBI belum memiliki Rancang Bangun bukan?! Setuju dengan kawan penulis yang disebutkan di awal tulisan, yang ada sekarang itu rancang bangun-rancang bangun dari sebagian-sebagian UIBI. Sehingga wajar sampai saat ini UIBI belum pernah memiliki Media Massa yang tangguh, wong belum pernah menyatukan kekuatan bersama koq.
Perjuangan UIBI adalah perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam, agar masyarakat Bangsa Indonesia mengalami quantum leap seperti masyarakat Arab di bawah pimpinan Muhammad Saw.. UIBI meyakini betul bahwa Bangsa Indonesia akan bisa menjadi bangsa yang terhormat bila nilai-nilai Islam maujud dalam kehidupan nyata Bangsa Indonesia. Dalam perjalanan memaujudkan nilai-nilai Islam itu, UIBI telah mengalami jatuh bangun berkali-kali. Hanya saja memang sampai saat ini kalangan intelektual UIBI belum bisa mengarahkan semua potensi UIBI menuju ke arah itu secara efektif. Kalangan intelektual UIBI belum bisa bergerak secara organik dalam mendorong UIBI memenuhi sasaran perjuangannya. Sampai saat ini kalangan intlektual UIBI masih banyak terkotak-kotak dalam formalitas keorganisasian Jama’ah minal Muslimin kalau bukan masih menyegel diri di menara gading.
Sepatutnya kalangan intelektual UIBI bekerja bersama-sama membangun rancang bangun perjuangan yang ideal guna mengarahkan dan mendorong segenap potensi UIBI dalam perjuangannya, demi terpenuhinya sasaran perjuangan UIBI. Sepantasnya kalangan intelektual UIBI menjadi katalisator kebangkitan Islam di tanah nusantara ini. Sesuai dengan petunjuk di kitab suci al Qur’an, bahwasanya yang menyatukan Ummat Islam adalah Alloh semata, maka tidak berlebihan kalau dikatakan kalangan intelektual mesti menjadi katalisatornya. Seperti ragi bagi Tapai, semestinyalah para cendekia mengambil peran sebagai agen yang mendorong pendewasaan kesadaran UIBI dengan cara membuat rancang bangun perjuangan yang realistis dalam mempersepsi kondisi UIBI saat ini.
Wa ‘l-Lahu A’lamu bi ‘sh-Shawwabi
Perjuangan UIBI
Waktu penulis baru saja selesai mengetik judul di atas di layar monitor, seorang kawan seperjuangan bertanya pada penulis, “Memangnya perjuangan Ummat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) punya rancang bangun?”.
Pada awalnya, penulis merasa bingung dengan arah pertanyaan tersebut. Kemudian setelah kawan penulis itu menjelaskan maksud dari pertanyaannya, barulah penulis mafhum. Menurut dia, UIBI sebagai satu kesatuan subjek, sampai saat ini tidak punya rancang bangun perjuangan. Bagi dia saat ini yang ada adalah rancang bangun-rancang bangun perjuangan sebagian-sebagian UIBI. Ada rancang bangun perjuangan ormas UIBI, ada rancang bangun orpol UIBI, yang jumlah ormas dan orpolnya saja lebih dari satu. Jadi bagi dia, kata kerja yang tepat sebenarnya mendesain, bukan memperbaiki. Sesuatu diperbaiki itu dikarenakan sesuatu itu ada dan rusak, bila sesuatu itu sebelumnya tidak ada maka bukan kata memperbaiki yang tepat untuk digunakan.
Anyway, niat penulis untuk menulis seulas renungan untuk UIBI berkaitan dengan fenomena FPI. Insiden Monas begitu menghentak hingga bisa menyatukan opini UIBI yang biasanya terpolar dalam beberapa kutub. Dalam isu insiden Monas kali ini, setidaknya UIBI kini hanya terbagi dalam dua kutub: kutub yang menghendaki pembubaran FPI dan kutub yang tidak menginginkan FPI dibubarkan. Sepertinya upaya pihak-pihak yang selama ini mengecam keberadaan FPI berakhir blunder.
Langkah Gus Dur dan kawan-kawan JIL beserta orang-orang yang pemikirannya sejenis rupanya menjadi bumerang. Karena kini mereka terpacak menjadi common enemy publik UIBI. Ini bisa dilihat dari dukungan yang terus mengalir dari kalangan UIBI baik dari kalangan Parpol maupun Ormas terhadap eksistensi FPI. Proses senjata makan tuan ini, entah masuk dalam hitungan para penasihat Conflict Management dari Gedung Putih mereka atau tidak.
Terlepas dari semua itu, saat ini UIBI mesti secara serius mengamati bagaimana efektifnya Media Massa dalam mempengaruhi opini publik. Di sisi lain UIBI sampai saat ini belum memiliki corong dalam menyuarakan aspirasinya. Pada kasus FPI yang hingga sekarang masih berlangsung perang opininya, kita bisa melihat betapa terpojokkannya UIBI di hadapan keperkasaan Media Massa.
Bila kita tengok perjalanan sejarah UIBI, mulai dari Syarikat Dagang Islam (1905) sampai Front Pembela Islam, UIBI belum sempat memiliki Media Massa yang cukup kuat untuk menghadapi mainstream isu suratkabar seperti Kompas. Padahal dari dulu, perjuangan UIBI beberapa kali mesti mundur beberapa langkah karena UIBI tidak bisa cukup kuat mempengaruhi opini publik. Apalagi pada masa-masa tribulasi kebangkitan Komunis di Indonesia. Betapa sering UIBI terpojok oleh pemberitaan-pemberitaan Media Massa Komunis. Salah satu korbannya yang masih terus selalu akan dikenang adalah Partai Masyumi. Partai kebanggan Ummat Islam ini harus tunduk di bawah pengadilan pers yang digelar surat-surat kabar komunis. Sehingga akhirnya Masyumi yang tidak bisa mendapatkan dukungan opini publik di hadapan Soekarno, akhirnya mesti rela dibubarkan. Intermezzo sedikit: Apakah FPI akan mengalami hal yang sama? Tidak bisa menggalang opini publik di hadapan SBY-JK, lalu harus rela dibubarkan?!
Maka daripada itu, kalangan intelektual UIBI mesti dengan segera membuat rancang bangun perjuangan UIBI yang bisa menangani hal-hal macam di atas. Apakah perjalanan panjang UIBI yang selalu kalah dalam pertarungan memperebutkan opini publik masih belum cukup untuk menggugah kesadaran kita? Lebih dari itu, memang sampai saat ini perjuangan UIBI belum memiliki Rancang Bangun bukan?! Setuju dengan kawan penulis yang disebutkan di awal tulisan, yang ada sekarang itu rancang bangun-rancang bangun dari sebagian-sebagian UIBI. Sehingga wajar sampai saat ini UIBI belum pernah memiliki Media Massa yang tangguh, wong belum pernah menyatukan kekuatan bersama koq.
Perjuangan UIBI adalah perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam, agar masyarakat Bangsa Indonesia mengalami quantum leap seperti masyarakat Arab di bawah pimpinan Muhammad Saw.. UIBI meyakini betul bahwa Bangsa Indonesia akan bisa menjadi bangsa yang terhormat bila nilai-nilai Islam maujud dalam kehidupan nyata Bangsa Indonesia. Dalam perjalanan memaujudkan nilai-nilai Islam itu, UIBI telah mengalami jatuh bangun berkali-kali. Hanya saja memang sampai saat ini kalangan intelektual UIBI belum bisa mengarahkan semua potensi UIBI menuju ke arah itu secara efektif. Kalangan intelektual UIBI belum bisa bergerak secara organik dalam mendorong UIBI memenuhi sasaran perjuangannya. Sampai saat ini kalangan intlektual UIBI masih banyak terkotak-kotak dalam formalitas keorganisasian Jama’ah minal Muslimin kalau bukan masih menyegel diri di menara gading.
Sepatutnya kalangan intelektual UIBI bekerja bersama-sama membangun rancang bangun perjuangan yang ideal guna mengarahkan dan mendorong segenap potensi UIBI dalam perjuangannya, demi terpenuhinya sasaran perjuangan UIBI. Sepantasnya kalangan intelektual UIBI menjadi katalisator kebangkitan Islam di tanah nusantara ini. Sesuai dengan petunjuk di kitab suci al Qur’an, bahwasanya yang menyatukan Ummat Islam adalah Alloh semata, maka tidak berlebihan kalau dikatakan kalangan intelektual mesti menjadi katalisatornya. Seperti ragi bagi Tapai, semestinyalah para cendekia mengambil peran sebagai agen yang mendorong pendewasaan kesadaran UIBI dengan cara membuat rancang bangun perjuangan yang realistis dalam mempersepsi kondisi UIBI saat ini.
Wa ‘l-Lahu A’lamu bi ‘sh-Shawwabi

BetuuLLL..
BalasHapusPemberitaan2 di media belakangan ini terkesan memojokan satu pihak saja (FPI). apalagi yang di expose adalah tindakan yang memang KASAR -nya.
Wah media sekarang gak bisa dipercaya untuk urusan berita2 yang menyangkut Islam. Semua punya kepentingan.
BalasHapusGak enak ya, jadi Wartawan suka Fitnah... dan banyak memberikan berita yg gak ada faktanya.
BalasHapusTapi dapat menghasilkan uang banyak *wekeiekik :)
trus bagaimana dengan rancang bangunnya ada ide brilian nggak?
BalasHapusKalo cuma tentang kekalahan Islam di media mah sudah ga usah dibahas.
semakin jelas campur tangan musuh islam di media massa,
BalasHapusempiris adalah salah satu usaha resisten kita terhadap usaha2 musuh itu.
alHamd lilLah.
assalamualaikum,,
BalasHapusklo menurut saya sih,, satu kasus fenomena fpi ga bisa dijadiin sbg gambaran umum apa yg mungkin anda anggap sbg rancang bangun perjuangan UIBI.
diantara sekian pola gerak ummat, maka pola fpi memang merupakan salah satu model gerakan yg ada,, yg dlm bbrp hal memang punya kelebihan dan kekurangan seperti juga model2 gerak yg lainnya.
so,, ga ada yg slh (dlm pengertian yg prinsipil) dlm model gerak fpi,, yg mungkin perlu kita upayakan lagi adl pola hubungan antara gerakan yg ada, agar bisa bersinergi, saling mengisi dan membantu (ta'awanuu 'alal-birri wat-taqwa...).
insyaaLlah..
Allohumma a'izzil muslimin..
sori klo agak panjang,, lagi pengen curhat euy :)
BalasHapusSebelumnya,, meskipun agak panjang dan ribet,, tapi yg pasti tulisan ini cuman tanggapan ringan (terutama terhadap situasi, bukan terhadap redaksi:) -- sebuah racauan atau gumaman,, sama sekali bukan refleksi apalagi desertasi ^^V
Saya cuma teringat Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, seorang aktivis Islam yang mendukung gerakan buruh ketika mereka tertindas, seorang nasionalis Islam yang berteriak lantang menentang kolaborator-kolaborator berkedok nasionalis-liberal.
Masalah kita bukanlah masalah ‘cara FPI’ yang sudah lazim dianggap orang salah, masalah kita adalah anggapan orang-orang terhadap ‘cara FPI’, ini yang perlu diluruskan -- bukan FPI.
Mungkin, masalah kita adalah ketidakmampuan kita menempatkan fenomena FPI dalam gerakan secara menyeluruh. Atau, jangan-jangan,, masalah kita juga adalah ketidakmampuan menempatkan diri kita dalam konteks gerakan Islam secara utuh.
Bisa jadi, kita juga gagal untuk memahami bahwa “keberhasilan” perjuangan Islam di masa Rasulullah saw justru dibangun di atas keragaman gaya dan cara para shahabat, keragaman pendekatan Rasulullah saw terhadap berbagai situasi yang dihadapinya, dan bukannya KESERAGAMAN.
Mudah-mudahan,, kita tidak terlalu terobsesi dengan adanya satu model gerakan ideal -- dan itu punya kita -- yang karenanya pola gerak orang lain harus diseragamkan.
Saya teringat SMK, jika dia bersama kita saat ini, mungkin,, yang dilakukannya adalah membicarakan sisi-sisi positif dan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil dicapai FPI untuk umat Islam selama ini. Karena, jangankan FPI yang jelas-jelas memperjuangkan tegaknya syari’at Islam, bahkan ISDV pun di awal masih sempat didukungnya, sambil terus menekuni apa yang menjadi programnya: membangun generasi muda ummat, merintis institut suffah, menggalakan koperasi-koperasi pedesaan, menyebarkan pembebasan melalui lisan dan tangannya. Karena SMK adalah seorang revolusioner sejati, seorang radikal dalam pengertian yang sebenarnya.
Ah,, seandainya saja dia bersama kita saat ini ...
Dia adalah seorang pemuda revolusioner yang bersama Soekarno dan Semaun berguru kepada Tjokroaminoto, dia adalah seorang revolusioner ketika memutuskan “hijrah” dan membentuk KPK PSII di usianya yang matang, dan di saat usianya mulai memasuki senja, dia “mengkhatamkan” revolusinya dengan memproklamasikan NII -- membela tanah air dan kehormatan ummat yang diabaikan diplomasi plintat-plintut Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Amir Sjarifudin.
Karena itu, buat saya,, “Semangat 49” adalah semangat pembebasan yang diungkapkan dalam gerakan intelektual dan sosial: Kaderisasi, Pengorganisasian, dan Propaganda,, BUKAN: siklus forum sembunyi-sembunyi, bai’at, lalu infak ...
Kepada para “pemuda kahfi”, sekarang saatnya kalian bangun dan keluar dari gua!
Hmmm...
Ah,, kita kembali lagi ke FPI,,
ya, memang sedikit “garang” ...
Ada masalah?
pusing ana mau komentar apa????
BalasHapusSudahlah sabar dulu teman (QS. Al-Imran:200), jika waktunya tiba, kita tunggu komando dari Allah Azza wa Jalla. SIKAT HABIS SEMUANYA...!!!!!!
Salam,
nurdin. gen's 554