kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional.
Pengertian IQ, EQ dan SQ.
Untuk mengetahui apa itu IQ, EQ atau SQ mari kita lihat pendapat para ahlinya.
Kecerdasan Intelijen kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif. IQ adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada ability to solve problems without the use of words, to think rapidly in visual images and to quickly interpret visual materials. The verbal subscale measures verbal comprehension, which includes applying verbal skills and information to the solution of problems.
Kecerdasan Emosional adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.(Daniel Goleman;1999)
Kalau anda membuka situs www.e-psikologi.com, anda bisa menemukan ulasan yang sangat baik mengenai apa yang dimaksud dengan Kecerdasan Spiritual.
“... kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.”
Kenapa penting untuk membicarakan IQ, EQ dan SQ?
Fakta di lapangan menunjukkan kalau sistem pendidikan di negeri kita adalah sistem pendidikan yang tidak bersahabat bagi pengembangan EQ dan SQ. Adapun kesimpulan itu diambil dari sistem kelulusan murid. Sampai saat ini standar kelulusan seorang murid ditentukan dari keberhasilan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kemampuan berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris dan mengerjakan soal matematika atau seputar pengetahuan tentang fakta-fakta dunia ekonomi.
Lulus atau tidak lulusnya seorang murid hanya dilihat dari kemampuan dia berkomunikasi dan kemampuan menggunakan rumus dalam menyelesaikan soal matematika, untuk anak IPA. Sedang untuk anak IPS selain kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia diuji juga memorinya tentang fakta-fakta di seputar dunia ekonomi. Fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan adalah diambilnya jalan pintas oleh sebagian besar murid.dalam menghadapi UN. Banyak murid sekolah di negeri kita sibuk memanfaatkan bank soal sebagai dewa penolong. Proses belajar murid sekolah sebagai sesuatu yang seharusnya adalah proses kreatif berubah hanya menjadi proses mekanik yang pada ujungnya hanya akan menghasilkan manusia-manusia mekanistis. Manusia-manusia yang minim atau bahkan tidak pernah mempelajari aspek-aspek emosional dirinya, apatah lagi sisi-sisi spiritualnya.
Lucunya, lulus di Ujian Nasional sepertinya sesuatu yang wajib di atas segalanya. Hingga segala daya dan upaya dilakukan agar bisa lulus atau meluluskan. Walaupun langkah yang diambil menyalahi norma yang berlaku di masyarakat kita. Yang lebih memprihainkan saat upaya di luar batas itu dilakukan oleh sosok orang yang seharusnya digugu dan ditiru.
Dari permasalahan seputar UN saja, secara sederhana kita bisa menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
Pengertian IQ, EQ dan SQ.
Untuk mengetahui apa itu IQ, EQ atau SQ mari kita lihat pendapat para ahlinya.
Kecerdasan Intelijen kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif. IQ adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada ability to solve problems without the use of words, to think rapidly in visual images and to quickly interpret visual materials. The verbal subscale measures verbal comprehension, which includes applying verbal skills and information to the solution of problems.
Kecerdasan Emosional adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.(Daniel Goleman;1999)
Kalau anda membuka situs www.e-psikologi.com, anda bisa menemukan ulasan yang sangat baik mengenai apa yang dimaksud dengan Kecerdasan Spiritual.
“... kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.”
Kenapa penting untuk membicarakan IQ, EQ dan SQ?
Fakta di lapangan menunjukkan kalau sistem pendidikan di negeri kita adalah sistem pendidikan yang tidak bersahabat bagi pengembangan EQ dan SQ. Adapun kesimpulan itu diambil dari sistem kelulusan murid. Sampai saat ini standar kelulusan seorang murid ditentukan dari keberhasilan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kemampuan berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris dan mengerjakan soal matematika atau seputar pengetahuan tentang fakta-fakta dunia ekonomi.
Lulus atau tidak lulusnya seorang murid hanya dilihat dari kemampuan dia berkomunikasi dan kemampuan menggunakan rumus dalam menyelesaikan soal matematika, untuk anak IPA. Sedang untuk anak IPS selain kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia diuji juga memorinya tentang fakta-fakta di seputar dunia ekonomi. Fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan adalah diambilnya jalan pintas oleh sebagian besar murid.dalam menghadapi UN. Banyak murid sekolah di negeri kita sibuk memanfaatkan bank soal sebagai dewa penolong. Proses belajar murid sekolah sebagai sesuatu yang seharusnya adalah proses kreatif berubah hanya menjadi proses mekanik yang pada ujungnya hanya akan menghasilkan manusia-manusia mekanistis. Manusia-manusia yang minim atau bahkan tidak pernah mempelajari aspek-aspek emosional dirinya, apatah lagi sisi-sisi spiritualnya.
Lucunya, lulus di Ujian Nasional sepertinya sesuatu yang wajib di atas segalanya. Hingga segala daya dan upaya dilakukan agar bisa lulus atau meluluskan. Walaupun langkah yang diambil menyalahi norma yang berlaku di masyarakat kita. Yang lebih memprihainkan saat upaya di luar batas itu dilakukan oleh sosok orang yang seharusnya digugu dan ditiru.
Dari permasalahan seputar UN saja, secara sederhana kita bisa menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
- Sistem pendidikan di negeri kita tidak pernah memperhatikan EQ atau SQ sebagai bagian dari keutuhan seorang manusia.
- Sistem pendidikan kita terlalu berfokus pada IQ.
- Sistem pendidikan kita pada tingkat paling sempurnanya (bila terus IQ oriented), hanya akan mampu mengeluarkan potensi manusia nusantara sebesar 20 persen saja,
- Maka wajar bila sistem pendidikan kita baru hanya bisa menghadirkan sumberdaya manusia yang kurang bisa diandalkan alias hanya cocok untuk jadi kuli. Kuli di negerinya sendiri. Een Natie van koeli.

Post A Comment:
0 comments:
Bro, ekspresikan ruhul jihad mu !!!