Bunuh diri merupakan hal ganjil dan para pelakunya merupakan kejahatan dirinya. Tentu berbeda dengan aksi bom syahid yang dilakukan rakyat Palestina demi membela kehormatan, negara dan agama mereka. Menurut pandangan ulama, serangan bom syahid demi untuk mengakhiri kolonialisme adalah suatu hal yang terpuji dan pelakunya mendapat gelar syahid.

Di akhir tahun 1995, Syeikh al-Azhar Prof Dr Mohammad Sayed Tantawi menyebut pejuang Palestina yang menggelar aksi bom syahid sebagai syahid. Ketika ia dikritik banyak pihak, ia pun meralat pandangannya dan mengatakan, orang yang meledakkan dirinya di pangkalan militer Israel adalah syahid. Adapun orang yang meledakkan dirinya di tengah Israel bukanlah syahid. Ungkapan ini tetap dibantah para ulama, karena semua warga Israel bersenjata.

Menurut Islam, kematian itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah, tapi rohnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. Orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk ke dalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.


Itulah yang diyakini para pengebom syahid di negara Palestina. Mereka berkeyakinan bahwa setelah kematian yang mereka lakukan demi membela negara dalam upaya mengusir penjajahan, akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus. Kematian semacam ini adalah misteri yang tidak mungkin dipahami oleh manusia secara rasional, kecuali mereka yang memiliki iman yang kokoh.

Itulah sebabnya, ketika dikabarkan bahwa pelaku bom syahid tewas saat menjalankan tugasnya, keluarga mereka mendapat pujian dan penghargaan, bukan ucapan belasungkawa. Bahkan kematian mereka disambut dengan sorak gembira disertai dengan zaghrathah (jeritan suara perempuan Arab di saat pesta perkawinan) dan mereka dianggap sebagai pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa.

Adapun aksi bunuh diri yang dilakukan terhadap rakyat sipil yang tak berdosa seperti yang telah terjadi di Legian-Bali dan Hotel Marriot-Jakarta, tidak tergolong mati syahid. Karena tindakan menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran merupakan tindakan yang keji (Hasan H. Assagaf, kolom komentar Sabili, No. 21 TH.XI 7 MEI 2004/ 17 RABI'UL AWAL 1425).

Pertanyaannya adalah, jika kita ikut menjadi korban dari para teroris ini, apakah benar kita adalah korban-korban tak berdosa?

Mengutip tulisan M.U. Salman dalam Sabili edisi yang sama, dinyatakan bahwa dalam Islam, kata Sa'id Hawwa dan Sayyid Quthb (dalam Tahrir Al-Wala'), jika seorang muslim memberikan wala'-nya kepada komunis dengan seluruh ideologinya, serta bekerjasama dengan komunis, ia tidak lagi dipandang sebagai seorang muslim. Dan muslim yang memberikan wala'-nya kepada para negarawan yang tidak mempunyai ikatan dengan tali (agama) Allah, tidak dipandang sebagai muslim.

Demarkasi atau garis pemisah antara mukmin dan kafir, amat jelas. Setiap jenis loyalitas dan kerjasama (muwalat) atas dasar hubungan yang tidak Islam, kata Sa'id Hawwa, adalah batil dan pelakunya berubah murtad. Karenanya, seorang muslim tidak memberikan wala' dan kerjasamanya kepada musuh-musuh Allah, apapun jenisnya. Sebaliknya ia hanya memberikan wala'nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Jika wala' dan ketaatan hanya diberikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, berarti manusia tersebut tergolong sebagai HizbuLlah (Partai-Allah).

Menurut Sa'id Hawwa, kita akan mendapatkan bahwa setiap al-Quran menyebut kata HizbuLlah, selalu diiringi dengan kata wala' merupakan tolok ukur iman seseorang kepada Allah Swt. Firman Allah, "Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi pemimpin (pelindung dan penolong)nya, maka sesungguhnya pengikut (partai) Allah itulah yang pasti menang," (QS al-Maaidah: 56)

Jadi apakah para bomber itu syahid, atau bunuh-diri? Apakah kita warga sipil ini adalah korban-korban tak berdosa, ataukah termasuk orang-orang yang bekerjasama dengan musuh-musuh Islam sehingga pantas ikut menjadi sasaran? WaLlahu a’lam.

Persoalannya mungkin bukanlah apakah para bomber itu syahid atau tidak, atau apakah tindakan menyerang warga sipil adalah tindakan yang bisa dibenarkan atau tidak, tapi, apakah kampanye anti-terorisme yang telah memaksa kita untuk menimbang pertanyaan-pertanyaan tadi bebas dari kepentingan untuk memecah-belah dan mengadu domba kita – Ummat Islam. Untuk pertanyaan yang satu ini, jawabannya sangat terang dan jelas, terbukti, kampanye anti-terorisme ini telah melahirkan korban yang jauh lebih banyak daripada korban para bomber itu sendiri – penangkapan dan penculikan para ustadz dan aktivis Islam, pemberangusan harakah-harakah Islam, pengebirian pesantren-pesantren dan berbagai fitnah lainnya, terlepas apakah mereka memang benar terlibat dengan aksi “terorisme” atau tidak.
Persoalan yang mendesak untuk segera “dijawab” oleh Ummat Islam saat ini adalah, kampanye anti-terorisme yang digembar-gemborkan oleh George Bush cs telah berhasil memecah-belah ummat ke dalam dua kutub yang ia ciptakan : teroris, dan anti-teroris.


Sebagian besar dari kita menjadi terlalu sibuk mencari “ridlo” dari orang-orang Yahudi dan Nashrani dengan menyatakan bahwa Islam bukan agama kekerasan, Islam agama damai, Jihad bukan hanya perang, terorisme bukan jihad, para bomber bukan syahid, dan seterusnya-dan seterusnya.

Dan setelah orang-orang Yahudi dan Nashrani meridloi kita, setelah kita mengikuti mereka mengutuk dan memerangi terorisme, setelah inventasi kembali mengalir, setelah travel-warning dicabut, setelah industri pariwisata kita kembali menggeliat, setelah kita dinyatakan sebagai negara demokrasi, setelah “islam” menjadi semakin serupa dengan demokrasi, humanisme, liberalisme dan modernisme, setelah berbagai “bantuan” melimpah, setelah hutang kembali dikucurkan, setelah cara berpakaian, pergaulan, pola pikir, makanan, tontonan, impian, harapan, dan ketakutan kita menjadi semakin serupa dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani – kitapun lega.Ajaib memang, tapi inilah yang saat ini sedang kita saksikan. Bagi keluarga korban “perang terhadap terorisme” di negeri ini, jangankan pembelaan atau ucapan selamat, sekedar simpati atau silaturrahmi-pun takkan mereka dapatkan. Mereka akan ikut dikucilkan dan disingkirkan, diteror dan dilenyapkan, mereka akan turut menjadi tersangka, tahanan, terdakwa, dan terpidana. Padahal, sebagai mukmin mereka masih saudara kita – masihkah?

Oleh: Iman Bandung (namja sahyun http://jkuorg.blogspot.com/)

Axact

Empiris

Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial mengorientasikan diri untuk menjadi katalisator terwujudnya Mulkiyah Allah di muka bumi, dan bersama-sama menggalang kekuatan kolektif dari potensi-potensi yang telah sejak lama berada dipangkuan Ummat Islam... Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayatil Mustadz'afin... Hidup Kita Bersama Allah, dan Allah Berada Dalam Kehidupan Kaum Tertindas... Inna fatahna laka fathan mubina...

Post A Comment:

3 comments:

  1. Rupanya pada saat sekarang ini; orang bunuh diri sedang ngetren
    berat. Kebanyakan orang bunuh diri karena merasa malu dan ini bukan
    hanya dilakukan oleh orang dewasa saja bahkan anak-anak sekalipun
    sudah banyak yang melakukannya. Misalnya Eko (15) dari Tegal yang
    telah mencoba untuk bunuh diri, karena merasa malu menunggak uang
    sekolah. Padahal pungutan uang sekolahnya hanya Rp. 5000 saja per
    bulannya. Sedangkan para konglomerat hitam yang memiliki hutang lima
    triliun saja tidak pernah mempunyai rasa malu.

    Cara yang ditempuh untuk bunuh diri itu macem-macem, mulai dari
    terjun bebas dari hotel/gedung tinggi, minum racun, menabrakan diri
    ke kereta api atau busway, gantung diri, potong urat nadi maupun
    bakar diri serta bom bunuh diri. Ini semua adalah cara bunuh diri yang kampungan alias
    nDeso. Dlm soal bunuh diri kita harus belajar dari Jepang, yang
    telah lama memiliki budaya malu. Mereka melakukan bunuh diri bukan
    hanya sekedar bunuh diri secara begitu saja melainkan dengan ritual
    dan disaksikan oleh beberapa orang, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri dan juga oleh bikshu Shinto.

    BalasHapus
  2. InsyaLlah, istisyhad bukan harakiri. WaLlohu a'lam.

    BalasHapus
  3. Salam Joeang!!!

    Sah-sah saja aksi syahid dikatakan BUNUH DIRI. Ini hanya permainan bahasa saja atau tergantung persepsi kita masing-masing.

    Ayatnya sudah jelas kok membunuh atau terbunuh (QS. at-Taubah:111. Para pelaku aksi syuhada (aksi syahid) memang itu sebuah pembelaan terhadap DIEN ISLAM. Mereka telah gagah dengan action terrornya, yakni menyerang dan membunuh orang-orang yang tidak ada manfaatnya dimuka bumi (kafir, munafik, fasik, Islam kedok doang tapi menjilat penguasa tiran, Islam kedok doang tapi berbuat kerusakan dan maksiat, dsb).

    Yah... yang namanya aksi syahid itu ya JELAS BUNUH DIRI, mereka telah mengorbankan jiwa raganya demi kepentingan Dien dan mengikuti perintah Allah Azza wa Jalla. Yang jelas aksi syahid (bom syahid) pahlawan-pahlawannya jelas terbunuh secara fisik, karena mereka siap jadi tumbal perlawanan, tapi MEREKA PADA HAKIKATNYA HIDUP DISISI ALLAH DENGAN KEABADIANNYA DIAKHIRAT. AMIN...!!!

    Salam,
    Nurdin,gens 554

    BalasHapus

Bro, ekspresikan ruhul jihad mu !!!