Oleh Tri Shubhi A
Mengapa kita dilahirkan dalam berbagai keterbatasan? Mengapa indera kita tak mampu mencapai semua hakikat kebenaran? Mengapa kita tak mampu mengindera Tuhan? Pertanyaan itu seringkali menggoda alam pikir kita. Kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai keterbatasan? Itulah pertanyaan pokoknya.
Mata kita begitu terbatas. Kita tak mampu melihat sesuatu yang terhalangi. Bahkan, mata kita pun terbatas pada sesuatu yang tak terhalangi. Rembulan di malam hari terlihat hanya sebesar bola basket di mata kita. Bebintang hanya terlihat sebesar titik saja di langit luas. Begitu terbatasnya mata pada hal yang nyata (fisik) dan tentu saja mata kita lebih terbatas pada hal yang melampaui nyata (ghaib).
Telinga kita pun demikian. Kita tak mampu mendengar bisikan hati teman kita, sekalipun ia ada di samping kita. Telinga kita tak mampu mendengar suara yang halus di sekitar kita. Telinga kita benar-benar terbatas. Telinga hanya bisa mendengar bunyi, sesuai dengan kemampuan pendengarannya yang terbatas.
Hidung kita pun terbatas pula. Kekuatan penciuman kita benar-benar terbatas. Kita hanya bisa mencium bau yang ada di sekitar kita. Tak mampu hidung mencium bau yang jauh dari tempat kita berada.
Seluruh organ-organ kita tak mampu melebihi batas-batasnya. Pada intinya, kita benar-benar terbatas. Untuk mencerap alam di sekitar kita saja, kita terbatas dan tentu saja alam “di luar” kita pun terbatas untuk di cerap. Semua indera kita terbatas.
Waktu kita pun sebenarnya, disadari atau tidak, sangat terbatas. Kita tak mampu mengubah sehari menjadi 24 jam 1 detik. Satu hari tetap saja 24 jam setiap hari. Kemarin, hari ini, esok hari, tetap 24 jam. Satu hal lagi, kita tak akan mampu mempercepat atau menahan waktu. Waktu tetap berjalan, “mengurung” kita dalam dirinya. Kita tak mampu mengembalikan atau melewatkan waktu yang sudah berlalu walau hanya sedetik. Kita benar-benar terbatas.
Demikian halnya dengan akal kita. Akal kita tak akan mampu menembus batas-batas yang telah ditentukan olehNya. Akal kita tak mampu (dan tak akan pernah mampu) mengetahui diriNya secara nyata, karena Allah terhalang oleh hijab. Kita hanya bisa mengetahui keberadaan Allah, melalui kabar yang diturunkanNya kepada Rosulallah Saw. Akal kita benar-benar terbatas. Jangan pula menghadapi diriNya Yang Agung Segala-galaNya, untuk menghitung jumlah rambut kita pun akal kita akan mendapat kesulitan. Memikirkan sistem dalam tubuh kita pun, akal harus tunduk pada fakta penciptaan yang nyata. Akal kita tidak dapat memikirkan ada apa sebelum kita. Jika pun kita memikirkannya, kita tak akan mampu memahaminya. Hanya kepercayaan kepada Allah sajalah yang dapat kita lakukan.
Sebuah timbangan yang mampu menimbang beban maksimal 10 Kg, tentu tak akan mampu menimbang gunung apa lagi bumi. Bukanlah timabangan itu rusak atau salah, tetapi timbangan itu terbatas dan tak akan mampu melampaui batasnya. Demikian pula halnya akal budi kita. Bukanlah dirinya yang salah atau rusak ketika memikirkan Tuhan, tetapi ia terbatas.
Apakah ini sebuah sikap yang pesimis terhadap kebenaran? Tentulah tidak. Akan tetapi ini hanya pengakuan dan kesadaran akan keterbatasan diri. Kita mampu mengetahui Allah Swt dengan haq melalui pengabarab diriNya tentang diriNya sendiri melalui Al Quran. Akan tetapi pengetahuan kita tentangNya tentu terbatas pada apa yang ia khabarkan tentang diriNya tersebut.
Dengan menyadari keterbatasan dan kelemahan kita, tentu kita akan senantiasa sujud menyerah kepadaNya. Kita patuhi semua kehendak dan takdirNya. Bukan pula sikap ini menggiring kita pada fatalisme.Ini hanya kesadaran keterbatasan diri. Oleh karena itu kita yakini bahwa hokum-hukum Allah memang begitu.
Kita tak akan lagi perlu untuk bertanya soal keadilan Allah. Tentang ‘kenapa benyak orang jahat yang diberi kesenangan, dan banyak orang beriman yang menderita padahal Allah Maha Kuasa’. Allah Swt memiliki banyak rahasia yang tak tergapai oleh kita. Di mana letak sorga dan neraka? Tak perlu lagi dipertanyakan karena akal kita terbatas, sedang letak imajinasi atau khayalan saja, yang senantiasa bersama kita, tak mampu dijelaskan. Di mana terjadinya mimpi saja tak mampu kita terangkan. Padahal mimpi senantiasa menemani kita di saat tidur. Padahal kita tak mampu menjelaskan bentuk nyata alam bawah sadar. Kita terbatas. Oleh karena itu kita harus menyandarkan diri kita pada hal yang melebihi diri dan semua makhluk yang ada. Dia lah Allah, Tuhan Yang Esa.
Lalu kenapa kita diciptakan terbatas? Bayangkanlah jika mata kita tak terbatas. Mampu melihat di sebalik dinding kamar mandi tetangga. Mampu melihat apa yang seharusnya tersembunyi.
Bayangkanlah jika hidung kita tak terbatas. Bayangkanlah jika hidung kita mampu mencium bebauan yang tertutup septi tank. Mampu mencium bau yang ada di dalam tubuh kita sendiri.
Bayangkan pula jika teling kita melebihi batasnya. Bayangkan jika kita mampu mendengar semua kebisingan yang ada. Mampu mendengar suara-suara yang mengerikan. Mampu mendengar suara-suara di dalam tubuh kita.
Padahal melihat darah yang mengucur saja terasa mengerikan. Padahal mencium bau yang sedikit busuk saja sudah mengganggu. Padahal mendengar suara bising saja kepala kita pusing. Bayangkanlah jika diri kita tak terbatas. Demikian pula, bayangkanlah jika akal kita tak terbatas.
Kita terbatas, karena kita sebaik-baiknya makhluk. Keterbatasan kita sudah sesuai dengan sunatulallah, sesuai dengan keadaan semesta, sesuai dengan takaran keberadaan segala sesuatu di luar diri kita, sesuai dengan fitrah penciptaan.
Mengapa kita dilahirkan dalam berbagai keterbatasan? Mengapa indera kita tak mampu mencapai semua hakikat kebenaran? Mengapa kita tak mampu mengindera Tuhan? Pertanyaan itu seringkali menggoda alam pikir kita. Kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai keterbatasan? Itulah pertanyaan pokoknya.
Mata kita begitu terbatas. Kita tak mampu melihat sesuatu yang terhalangi. Bahkan, mata kita pun terbatas pada sesuatu yang tak terhalangi. Rembulan di malam hari terlihat hanya sebesar bola basket di mata kita. Bebintang hanya terlihat sebesar titik saja di langit luas. Begitu terbatasnya mata pada hal yang nyata (fisik) dan tentu saja mata kita lebih terbatas pada hal yang melampaui nyata (ghaib).
Telinga kita pun demikian. Kita tak mampu mendengar bisikan hati teman kita, sekalipun ia ada di samping kita. Telinga kita tak mampu mendengar suara yang halus di sekitar kita. Telinga kita benar-benar terbatas. Telinga hanya bisa mendengar bunyi, sesuai dengan kemampuan pendengarannya yang terbatas.
Hidung kita pun terbatas pula. Kekuatan penciuman kita benar-benar terbatas. Kita hanya bisa mencium bau yang ada di sekitar kita. Tak mampu hidung mencium bau yang jauh dari tempat kita berada.
Seluruh organ-organ kita tak mampu melebihi batas-batasnya. Pada intinya, kita benar-benar terbatas. Untuk mencerap alam di sekitar kita saja, kita terbatas dan tentu saja alam “di luar” kita pun terbatas untuk di cerap. Semua indera kita terbatas.
Waktu kita pun sebenarnya, disadari atau tidak, sangat terbatas. Kita tak mampu mengubah sehari menjadi 24 jam 1 detik. Satu hari tetap saja 24 jam setiap hari. Kemarin, hari ini, esok hari, tetap 24 jam. Satu hal lagi, kita tak akan mampu mempercepat atau menahan waktu. Waktu tetap berjalan, “mengurung” kita dalam dirinya. Kita tak mampu mengembalikan atau melewatkan waktu yang sudah berlalu walau hanya sedetik. Kita benar-benar terbatas.
Demikian halnya dengan akal kita. Akal kita tak akan mampu menembus batas-batas yang telah ditentukan olehNya. Akal kita tak mampu (dan tak akan pernah mampu) mengetahui diriNya secara nyata, karena Allah terhalang oleh hijab. Kita hanya bisa mengetahui keberadaan Allah, melalui kabar yang diturunkanNya kepada Rosulallah Saw. Akal kita benar-benar terbatas. Jangan pula menghadapi diriNya Yang Agung Segala-galaNya, untuk menghitung jumlah rambut kita pun akal kita akan mendapat kesulitan. Memikirkan sistem dalam tubuh kita pun, akal harus tunduk pada fakta penciptaan yang nyata. Akal kita tidak dapat memikirkan ada apa sebelum kita. Jika pun kita memikirkannya, kita tak akan mampu memahaminya. Hanya kepercayaan kepada Allah sajalah yang dapat kita lakukan.
Sebuah timbangan yang mampu menimbang beban maksimal 10 Kg, tentu tak akan mampu menimbang gunung apa lagi bumi. Bukanlah timabangan itu rusak atau salah, tetapi timbangan itu terbatas dan tak akan mampu melampaui batasnya. Demikian pula halnya akal budi kita. Bukanlah dirinya yang salah atau rusak ketika memikirkan Tuhan, tetapi ia terbatas.
Apakah ini sebuah sikap yang pesimis terhadap kebenaran? Tentulah tidak. Akan tetapi ini hanya pengakuan dan kesadaran akan keterbatasan diri. Kita mampu mengetahui Allah Swt dengan haq melalui pengabarab diriNya tentang diriNya sendiri melalui Al Quran. Akan tetapi pengetahuan kita tentangNya tentu terbatas pada apa yang ia khabarkan tentang diriNya tersebut.
Dengan menyadari keterbatasan dan kelemahan kita, tentu kita akan senantiasa sujud menyerah kepadaNya. Kita patuhi semua kehendak dan takdirNya. Bukan pula sikap ini menggiring kita pada fatalisme.Ini hanya kesadaran keterbatasan diri. Oleh karena itu kita yakini bahwa hokum-hukum Allah memang begitu.
Kita tak akan lagi perlu untuk bertanya soal keadilan Allah. Tentang ‘kenapa benyak orang jahat yang diberi kesenangan, dan banyak orang beriman yang menderita padahal Allah Maha Kuasa’. Allah Swt memiliki banyak rahasia yang tak tergapai oleh kita. Di mana letak sorga dan neraka? Tak perlu lagi dipertanyakan karena akal kita terbatas, sedang letak imajinasi atau khayalan saja, yang senantiasa bersama kita, tak mampu dijelaskan. Di mana terjadinya mimpi saja tak mampu kita terangkan. Padahal mimpi senantiasa menemani kita di saat tidur. Padahal kita tak mampu menjelaskan bentuk nyata alam bawah sadar. Kita terbatas. Oleh karena itu kita harus menyandarkan diri kita pada hal yang melebihi diri dan semua makhluk yang ada. Dia lah Allah, Tuhan Yang Esa.
Lalu kenapa kita diciptakan terbatas? Bayangkanlah jika mata kita tak terbatas. Mampu melihat di sebalik dinding kamar mandi tetangga. Mampu melihat apa yang seharusnya tersembunyi.
Bayangkanlah jika hidung kita tak terbatas. Bayangkanlah jika hidung kita mampu mencium bebauan yang tertutup septi tank. Mampu mencium bau yang ada di dalam tubuh kita sendiri.
Bayangkan pula jika teling kita melebihi batasnya. Bayangkan jika kita mampu mendengar semua kebisingan yang ada. Mampu mendengar suara-suara yang mengerikan. Mampu mendengar suara-suara di dalam tubuh kita.
Padahal melihat darah yang mengucur saja terasa mengerikan. Padahal mencium bau yang sedikit busuk saja sudah mengganggu. Padahal mendengar suara bising saja kepala kita pusing. Bayangkanlah jika diri kita tak terbatas. Demikian pula, bayangkanlah jika akal kita tak terbatas.
Kita terbatas, karena kita sebaik-baiknya makhluk. Keterbatasan kita sudah sesuai dengan sunatulallah, sesuai dengan keadaan semesta, sesuai dengan takaran keberadaan segala sesuatu di luar diri kita, sesuai dengan fitrah penciptaan.
Sementara itu, Allah Yang Maha Kasih telah melebihkan sebagian manusia di antara manusia lainnya. Ada para Nabi yang mampu menembus batas-batas manusia biasa. Hal sedemikian itu merupakan bentuk lain kasih sayang Allah Swt atas diri kita. Dengan adanya para Nabi, kita mampu mengetahui apa yang harus kita lakukan di alam dunia. Kita di tuntun untuk menapaki jalan yang benar, yang ia turunkan kepada para Nabi. Akal kita terbatas dan tidak akan mampu untuk mengetahui perintah Allah Swt yang dapat menuntun kita menuju jalan keselamatan. Oleh karena itu Allah menurunkan perintah itu kepada Nabi.
Upaya-upaya untuk menembus batas memang kerap dilakukan oleh manusia. Saat ini, batas sudah tak lagi dihiraukan. Sebagian manusia berlomba-lomba melampaui batas. Akan tetapi, sadarkah kita, bahwa kita tak pernah ke mana-mana. Kita tetap di sini dalam keterbatasan kita.
Sekalipun teknologi menjanjikan rekaman suara burung dan kesejukan alam, semua itu tetaplah imitasi. Itu bukan suara burung dan bukan pula kesejukkan alam. Teknologi tidak menembus batas apa pun, karena ia pun sebenarnya terbatas.
Dengan menyadari keterbatasan kita, tak ada pilihan lain selain patuh dan taat kepada Allah Swt dengan kepatuhan dan ketaatan yang telah dicontohkan Nabi. Dengan menyadari keterbatasan kita, kita kan menggunakan akal kita guna kemajuan manusia dan keselamatan manusia tanpa eksploitasi terhadap alam dan moral yang berlebihan.
Walahu’alam bi showab.

Post A Comment:
0 comments:
Bro, ekspresikan ruhul jihad mu !!!