Dalam kancah dunia jihad, seseorang bila telah syahid, biasanya mengeluarkan ciri khas yang menyertainya. Hal-hal tersebut sangat familiar ada di kancah jihad Afghanistan, Palestina, Iraq dan kancah jihad lainnya. Sebagai pertanda akan kesyahidan dan persaksian akan perjuangan yang telah dilakukan sebelumnya dengan susah payah. Demikian pula yang terjadi dengan Syuhada Imam Samudera.Pekikan takbir mengiringi datangnya jenasah para syuhada. Bagi pahlawan di medan perang, sambutan itu menggema , dan mengharu biru. Tidak ada sedikitpun perasaan bahwa mereka adalah teroris dan kriminal seperti yang telah digembar-gemborkan oleh aparat kepolisian, pihak yang melakukan pembunuhan keji terhadap Imam Samudera, Amrozi dan Ustad Mukhlaas. Bahkan warga meneriakan dukungan dan akan terus melanjutkan perjuangan mereka.
Di Serang, Banten, warga berebut untuk men-sholatkan jenazah Imam Samudera. Daya tampung masjid yang terbatas membuat sholat jenazah terpaksa dilakukan hingga empat kali. Kondisi tak jauh beda dengan yang terjadi di Lamongan, Jawa Timur. Ribuan jamaah yang ikut dalam prosesi pemakaman syuhada Tenggulun, memaksa sholat jenazah dilakukan lebih dari dua kali.
Tanda Syahid
Bukti-bukti kesyahidan atas tiga syuhada Bali ini terlihat dengan jelas. Di sekitar rumah kediaman Hj. Tariyem, Ibunda Amrozi, burung berwarna hijau berputar-putar di atas rumah.
Inilah Karomah nyata yang diberikan Alloh kepada ketiga syuhada yang bisa disaksikan oleh ribuan masa yang hadir dengan kasat mata.
Awal mula kemunculan burung (burung Karomah) tersebut bersama kedatangan helikopter pembawa syuhada 2 ekor dari arah timur,dan satu ekor dari arah barat.Kemudian mereka bergabung lalu berputar-putar tepat di atas rumah Assyahid Ust Muklas dan Amrozi.
Selain itu bau semerbak yang keluar dari tubuh syuhada Amrozi dan Ustadz Mukhlas jelas memancar. Khas bau seorang syahid. Bau itulah yang membuat suasana semakin haru. Para pelayat tak kuasa menahan air mata mereka. Menurut kontributor Muslimdaily, Rofiq, wajah para syuhada terlihat sangat bersih dan tampan. Berseri dan terlihat tersenyum, tidak nampak bekas raut wajah yang menahan kesakitan, meski dibunuh dengan cara ditembak.
Usai berpisahnya kawanan burung karomah tersebut 2 ketimur dan 1 kebarat terlihat lafad Alloh dari awan di langit diatas rumah Amrozi.
Tak jauh berbeda keadaan dengan syuhada Imam Samudera. Menurut Khoirul Anwar, kakak Imam Samudera, adiknya terlihat sangat bersih. Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. Seperti bayi yang baru saja dimandikan bidan," tuturnya. "Wajahnya begitu bahagia dan bersih. Bibirnya tampak tersenyum," imbuhnya.
Tidak hanya disitu saja keanehan yang terjadi. Menurut Lulu Jamaludin, adik Imam Samudera, kakaknya memancarkan bau wangi seperti minyak wangi yang sering dipakainya. Bahkah darah segar terus saja mengalir dari luka bekas tembak. "Memang darah Syuhada tidak kan pernah kering," ujar Khairul.
Dan Takbir Pun Menjadi Salam Perpisahan
Ribuan pelayat yang berdatangan dari segala penjuru kota, menjadi pertanda atas ketulusan perjuangan mereka. Tujuan dan seruan mereka yang disampaikan melalui wartawan televisi akan keikhlasan dalam memperjuangkan Islam dan kaum Muslimin, terbukti dengan banyaknya orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Entah akankah akan ditemui pejuang yang seperti mereka. Namun tabiat sejarah dan peradaban akan terus berulang. Kematian seorang pejuang akan melahirkan ribuan pejuang. Mati satu tumbuh seribu. Akan lahir mujahid yang mewarisi watak, prinsip, dan pendirian mereka meski dalam segi yang berbeda. Kemudian mereka juga akhirnya akan berakhir sama, menghadapi kematian syahid yang lama sudah mereka damba.
Tubuh saling berdesakan dan perhatian terus tertuju kepada jasad para syuhada sebelum masuk liang lahat. Bibir terus bergumam mengucapkan dzikir dan takbir. Allahu Akbar...!! Selamat jalan wahai syuhada, kami akan mewarisi sifatmu yang mulia. Dan takbir pun menjadi salam perpisahan kita di dunia.
"Siapa dari KITA yang akan menyusul mereka?!"
Yuqtalu au Yaghlib !!!
Allohu Akbar…!!!

وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم سألوه عن هذه الآية : (( و لا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتاً بل أحياء عند ربهم يرزقون )) سورةآل عمران : 169 . فقال صلى الله عليه وسلم : (( أرواحهم في جوف طير خضر لها قناديل معلقة بالعرش تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوي إلى تلك القناديل ، فاطلع إليهم ربهم إطلاعة فقال : هل تشتهون شيئاً قالوا : أي شيء نشتهي و نحن نسرح من الجنة حيث شئنا ففعل ذلك بهم ثلاث مرات ، فلما رأوا أنهم لن يتركوا من أن يسألوا قالوا : يا رب نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى ، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تركوا )) أخرجه مسلم
BalasHapusDari Ibnu masud.ra. bahwa murid beliau menanyakan tentang tafsiran ayat "Jangan kalian mengira bahwa orang terbunuh dijalan Alloh adalah mati. Namun mereka tetap hidup disisi Tuhan mereka dan berlimpah rizqi" (Qs.Ali imran:169). Lalu beliau menjawab, bahwa Rosululloh.saw. telah bersabda: Roh-roh para syuhada berada dalam perut-perut burung hijau, memiliki sarang yang bergelatungan dibawah Arsy. Mereka berputar didalam syurga sekehendak burung-burung tersebut, lalu kembali sarangnya. Lantas Robb mereka (Alloh.swt) melihat sembari menawarkan: adakah kalian menginginkan sesuatu (nikmat lain)?, mereka menjawab: apalagi yang kami inginkan, sedang kami bebas berkeliling didalam syurga?. Lalu Alloh.swt. mengulangnya 3kali, dan merekapun menjawab dengan jawaban serupa.dan ketika mereka putus asa untuk lepas dari pertanyaan Alloh, maka mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, kami ingin agar Engkau berkenan mengembalikan arwah kami dalam jasad kami, agar kami terbunuh dijalanMu sekali lagi. Saat Alloh tidak mendapati dari mereka sesuatu yang dibutuhkan, maka Ia membiarkan mereka.
"Tanyakanlah kepada Bani Israil: 'Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka'. Dan barangsiapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang ni'mat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya." [2:211]
Malu ah kita salam juang terus tiap hari!!!
BalasHapusMalu sama Mas Imam, Mas Mukhlas, Mas Amrozy.
Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...Perang...!!!
Yuqtal ua Yaghlib
Salam,
Nurdin.muh@smart-telecom.co.id
iya, bener,, emang malu2 in juga :">
BalasHapussaat ini jihad memang telah menjadi fardlu 'ain, tapi kita juga jgn melupakan Pe-eR kita sebagai ummat Islam di Indonesia: Penegakan Syari'at Islam :)
waLlohu a'lam.
wassalam.
Laa 'izzata illa bil-jihad!
Yoi.. Memang ini Pe-Er untuk kita semua yang masih hidup untuk terus membuat thoghut dinegeri ini ketakutan.!!!
BalasHapusPe-Er untuk kita semua guna melanjutkan perjuangan sampai DAULAH ISLAM TEGAK UTUH di negeri ini.
"Tetap pertahankan ukhuwah dan persatuan kita ya wahai...Cakra.Ok!!!"
Inna Fatahnaa Lakaa Fathan Mubina. Amin.
Salam,
nurdin.muh@smart-telecom.co.id
Salam Joeang lagi ya...!!!
BalasHapusDalam waktu dekat ini pasti ISLAM akan MENGGUGAT...!!! Seluruh barisan ummat dengan semangat perlawanannya terus maju dan menggilas demokrasi sesat di Republik Indonesia Sekuler ini...!!! Dengan gegap gempita sambil mendendang nada ketertindasan...pastikan kita maju bersama-sama menuju permadani syuhada (YUQTAL au Yaghlib), gilasan rodanya mampu menyapu bersih para penyembah berhala di republik sekuler ini. Teriakan takbir...takbir...takbir berkumandang menderum telinga para penguasa bathil dan menyingkirkan kamu nasionalis busuk pemuja PANCASYETAN dan UUD45 laknat...!!!
DAWLAH ISLAM INDONESIA!!! Ini sudah menjadi rindu dendam kita...Amin...!!!
INNA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBINA...!
Salam,
Al-Faqir
nurdin.muh@smart-telecom.co.id
sip.. bro.. Takbir!!
BalasHapusJihad sih jihad, tapi jangan merusak negara sendiri. "orang bali/Hindu percaya hukum karma,
BalasHapusdan karma itu sedang terjadi,
daerah/negara sarang teroris sudah mulai
dibencanakan/musnahkan.
banjir, tsunami, lumpur, gempa, gunung meletus,
puting beliung, longsor, perang, dll sudah mereka rasakan. Dan itu korbannya jauh lebih besar ketimbang perbuatan si”teroris” (et.al: wedha Cruti, hal. 1002)
“TUHAN MEMANG ADIL”
duh komen'a bgs" bgt
BalasHapusbingung mo nulis pa selaen
KERENZZ BOWWW!!!!!!!!!
setiap manusia yang percaya kepada tuhannya selalu mengajarkan kedamaian dan cinta kasih antar sesama. Hubungan yang harmonis tercipta apabila antara manusia dan manusia serta manusia dengan tuhannya dapat saling terbina dengan baik.
BalasHapusTerus terang saya kurang setuju dengan apa yan diperjuangkan Amrozi, dkk. Sebenarnya saya juga malu sebagai sesama muslim mendengung-dengungkan kematian sahid kepada mereka. Kematin Sahid urusan Allah meskipun ada umatnya seperti Amrozi dkk membunuh orang-orang yang berdosa, karena luasnya pengampunan dari Allah SWT.
Islam bisa bersinar dan mampu menaklukkan hati umat agama lain dengan menunjukkan kemajuan, toleransi dan saling pengertian seperti yang ditunjukkan di jaman Rosulallah dan 4 khalifah.
Mohon jadilah islam yangpenh damai, perangi dimana ada daerah islam yang di aniaya. Disini, Indonesia penuh damai, mengapa anda mengorbarkan perang. Bacalah sejarah perang yang penuh derita itu. Bukan hanya orang kafir saja kok dalam sejarah yang menyebabkan penderitaan umat banyak, sejarah negara turki yang islam juga pernah membantai manusia dalam jumlah yang besar juga. jadi kesimpulan saya janganlah mengatasnamakan agama, anda membuat perang. manusialah yang selalu berbuat onar dimuka bumi.
Maaf kalau tulisan ini menyingung banyak orang, karena semata-mata lemahnya ilmu saya.