Articles by "pki"
Tampilkan postingan dengan label pki. Tampilkan semua postingan
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial


Aksi Keji PKI Begitu Nyata! 
Lebih dari 35 Saksi Angkat Bicara

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) penuh darah kekejaman di mana-mana. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih, serta mengubur hidup-hidup para kiyai dan santri, menghasut para petani untuk berontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis.

Semua tindakan PKI hanya untuk satu tujuan: Mengganti Indonesia menjadi negara komunis. Negara anti Tuhan dan anti insan ber Tuhan yang berlambang palu arit.

Dengarkan Cerita Para Saksi dan Korban 

Ingatan mereka akan sejarah kekejaman PKI tak ‘kan terhapuskan. Trauma demi trauma yang siapapun tak ingin mengalaminya. Mereka hanya ingin  berbicara kepada kita. Maka dari itu, dengarkanlah…
  • Genangan Darah Setinggi Mata Kaki

    “Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.
    Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948.
  • 30 Orang Dibakar Hidup-hidup dalam Loji

    “Sebanyak 30 orang tokoh dan para kyai dimasukkan kedalam loji, diberi makanan beracun lalu dibakar hidup-hidup. Ketika berhasil membobol pintu berantai setelah berdoa dan berteriak Allaahu Akbar, mereka dibacok dengan pedang”.
    Siti Maisaroh, anak korban selamat peristiwa Ngawi 1948.
  • Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur

    “Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”.
    Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948.
  • Diseret ke Hutan Lalu Dijatuhkan ke Jurang

    “Bapak saya beserta enam orang pemuka agama yang jadi sahabatnya diseret dan dibawa ke hutan. Lalu dibunuh dengan cara dilempar ke jurang dan dihujani batu”.
    Sartono, anak Carik Ismail, peristiwa Ponorogo 1948.
  • Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng

    “Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.”
    Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965.
  • Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas

    "Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal".
    Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965.
  • Kakak Saya Dipotong Telinganya Lalu Dibuang ke Sumur

    "Para tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Kakak saya dipotong telinganya. Lalu dibuang di sumur tua".
    Mughni, Ponorogo, saksi korban peristiwa 1948.
  • Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas

    "Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri".
    Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948.
  • Kakak Tertua saya Hilang Dibawa PKI

    "Setelah menggeledah rumah orang tua saya, kakak tertua saya dibawa PKI. Lalu tidak jelas kabarnya. Lima orang saudara sampai sekarang hilang tidak ditemukan"
    Mastur, saksi korban peristiwa Ponorogo 1948.
  • Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi

    “Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”.
    Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948.
  • Buya Hamka Disiksa Setiap Hari

    “Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum. kemaluannya”.
    Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966.
  • Saya Dituduh Kontra Revolusi

    “Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”.
    Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965
  • Ayah Saya Dibacoki, Dipukuli, Lalu Dimasukkan Sumur

    Ayah saya dan adik ayah saya bersama lima orang lainnya para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Mereka berhasil keluar. Setelah keluar bapak saya dibacoki. Bapak saya dipukuli. Bapak saya dimasukkan ke dalam sumur.
    Suradi, anak Sastro Glombroh, korban peristiwa Ngawi 1948.
  • Mencoba Melarikan Diri Enam Orang Langsung Dibantai

    Peristiwa pembantaian beberapa orang di Dusun Gebung, Katikan, Ngawi, sebetulnya ada enam orang yang berhasil keluar lewat jendela bangunan yang saat itu dibakar PKI. Namun, setelah di luar mereka dibantai dengan pedang dan jasadnya bertumpukan di dekat sumur.
    Jumairi, saksi peristiwa Ngawi 1948.
  • Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar

    Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar.
    Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948.
  • Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya

    Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.
    Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965.
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial

Penculikan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap Siyono persis dengan apa yang dilakukan Komunis diera '60 hingga '65an, yakni menculik dari mesjid dan akhirnya dibunuh dengan tubuh sikorban sudah luluh-lantak akibat penyiksaan. Cara-cara ini lazim dilakukan Komunis guna memberikan rasa takut, atau saat ini istilahnya teror. Patut diingat, apa yang menimpa kepada Siyono bukan baru dipraktikan, malah lebih jauh lagi cara-cara kekejiaan seperti ini pun juga kerap dilakukan diera kolonialisme oleh para penjajah kafir terhadap ulama-ulama pejuang kemerdekaan. Menculik, menyiksa dan membunuh sedari dahulu senantiasa mendera umat Islam yang teguh terhadap imannya. 

Kekejian yang dilakoni Densus 88 terhadap Siyono dapat mengancam integritas bangsa sebagai bangsa yang beradab. Hal ini pun sekaligus menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Densus 88 dan teroris sama-sama telah mempraktekan pelanggaran HAM berat seperti zionis Israel Laknatullah.

Menjadi satu catatan penting, Negeri bernama Indonesia ini dibebaskan dari penjajahan oleh para santri dan ulama. Para santri dan ulama melawan penjajah kafir demi Allah semata. Bukan karena kekuasaan dan kekayaan semata. Dan yang menumpas Komunis pun yakni santri dan ulama. Jadi sangat sederhana logikanya, siapapun yang melakukan praktik-praktik tercela seperti apa yang menimpa kepada Saudaraku Siyono, dapat dipastikan paradigma sipelaku dan kurawanya sama dengan penjajah kafir atau Komunis.

Ada paradigma kolonialisme yang keji di kasus pembunuhan Siyono, selain persekongkolan hitam yang menyelimutinya. Santri, ulama dan segenap pendekar kemanusiaan sudah saatnya mengungkap tabir gelap kebusukan ini. Demi kemanusiaan sejati sebagai ruh ideologi bangsa yang berketuhanan. Polri lahir setelah rakyat Islam membidani TNI dengan Laskar Sabilillah dan Hisbullah. Artinya, negeri ini milik Rakyat Islam yang membebaskan dari penjajahan kafir jauh sebelum Polri dan TNI lahir.

Menyoal Siyono, beliau adalah Rakyat Islam, Imam Mesjid yang shalih dan taat terhadap Allah Azza wa Jalla. Hanya orang berparadigma kolonialisme dan komunisme sajalah yang melakukan hal keji terhadap Siyono. Tak mungkin Polri yang lahir dari Rakyat Islam melakukan itu, kecuali ada kacung penjajah kafir dan Komunis bersembunyi disana demi mencerai beraikan integritas bangsa Indonesia.

Seiring pengungkapan terbunuhnya Siyono oleh Densus 88, akan ditingkahi dengan counter opini dari Persekongkolan Kontra Islam (PKI) yang menampakan paranoia akibat kebusukannya mulai terkuak. PKI tak'kan tinggal diam dengan diungkapnya penyebab kematian Siyono, karena pengungkapan kematian Siyono bagi PKI dapat menjadi gelombang yang mengancam eksistensinya dalam menindas Umat Islam Bangsa Indonesia. Hal ini patut diantisipasi dengan lebih mendekatkan diri kepada Alloh Azza wa Jalla dan terus menggelorakan wahdatul ummah di seantero Indonesia Raya. PKI tak'kan rela konspirasi kejinya terbongkar. Mereka dengan segala cara akan menutupi kejahatan kemanusiaannya. Kita harus cermat. Kita mesti terus fokus menguliti kedengkian mereka yang selama ini telah menodai kemanusiaan yang beradab sebagai falsafah bangsa ini. Kita tak perlu gentar dengan sesumbar arogansi mereka.

Kita dengan memohon pertolongan Alloh perlu tetap terjaga, menjaga dengan seksama proses penggalian kasus terbunuhnya Siyono yang saat ini Alloh mengamanahi kepada ikhwah kita di Organisasi yang dibidani oleh Mujahid Kemerdekaan Nasional, KH. Ahmad Dahlan. Kasus ini amatlah serius bagi kemanusiaan sejati yang kiwari bak sandyakala di negeri bekas jajahan Hindia Belanda. Siyono, seorang Muslim warga negara Indonesia telah menjadi korban keganasan jejaring imperialisme. Siyono, ia seorang imam mesjid yang shalih dan taat kepada aturan Dinulloh. Siyono, warga negara yang sama dengan kita untuk mendapatkan hak sebagai warga negara yang berdaulat. 

Terbunuhnya Siyono adalah simbol hak warga yang berdaulat atas kemerdekaannya direnggut secara paksa oleh alat kekuasaan. Ini kejahatan serius tingkat tinggi. Kejahatan yang dapat merusak tatanan kebangsaan. Terbunuhnya Siyono wajib diungkap secara terang benderang demi kemanusiaan sejati dan keberlangsungan hidup bermasyarakat. Bersama, mari kita kawal ikhwah kita di Organisasi Muhammadiyah untuk menguak misteri penganiayaan dan pembunuhan Siyono. 

Barakalloh. Alloh lah sebaik-baik makar. Billahi hayaatuna wallahu fii hayatil mustad'afin.




Penulis : Natayuda